Kabupaten Tangerang | KometNews.Id – Pemerintah Kelurahan Tigaraksa akhirnya meresmikan Satuan Tugas (SATGAS) Tigaraksa Peduli Lingkungan Kita (TIGA PELITA) dalam sebuah agenda pelantikan yang bukan sekadar seremoni, tetapi penegasan arah baru pengelolaan sampah berbasis masyarakat, Senin (20/4/2026).
Kegiatan ini dihadiri langsung Lurah Tigaraksa Eko Suyanto, S.E, unsur tim monitoring dan evaluasi, perwakilan kecamatan, serta para pengurus dan relawan pengelola sampah. Dari pihak kecamatan, Mulyadi selaku Kasi Pemerintahan hadir mewakili Camat Tigaraksa.
Dalam keterangannya, Mulyadi menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak bisa hanya dibebankan kepada Satgas semata. Dibutuhkan komunikasi aktif dan keterlibatan langsung masyarakat di lingkungan masing-masing.
“Kalau hanya mengandalkan Satgas, tentu akan berat. Kuncinya ada pada komunikasi dengan masyarakat. RT, RW, tokoh lingkungan harus dilibatkan. Kalau ini berjalan, program akan berkembang,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, proses pembentukan Satgas Tiga Pelita telah dimulai sejak 10 Februari 2026 melalui penandatanganan awal hingga hari ini resmi dilakukan pelantikan dan pengesahan SK.
“Harapannya jelas, tidak ada lagi sampah yang tidak punya manfaat,” tambahnya.
Lurah Tigaraksa Eko Suyanto, S.E menegaskan bahwa program Tiga Pelita merupakan bentuk pemberdayaan nyata yang lahir dari proses panjang dan komunikasi intens.
“Ini bukan program instan. Kita akan turun langsung ke masyarakat untuk sosialisasi. Sampah harus kita ubah jadi nilai ekonomi,” tegasnya.
Dalam sesi sosialisasi, Imam memberikan penjelasan teknis sekaligus edukasi tegas kepada peserta. Ia menekankan bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program.
“Sampah harus dibuang pada tempatnya. Kita jalankan program waras. Jangan hanya membuat tempat sampah tanpa solusi. Edukasi harus jalan,” tegasnya.
Ia juga mencontohkan adanya sekolah di belakang Kantor Kelurahan Tigaraksa yang sudah berhasil menerapkan lingkungan bersih tanpa sampah.
“Itu bukti nyata. Kalau ada kemauan, lingkungan bersih itu bisa diwujudkan,” tambahnya.
Tak hanya itu, dalam sesi diskusi muncul pandangan dari salah satu narasumber yang menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari langkah sederhana namun konsisten. Ia menyebut ada lima cara utama mengatasi sampah, dengan poin paling mendasar adalah pemilahan.
“Cara paling awal dan penting adalah memilah sampah. Organik dan non-organik harus dipisahkan. Kalau dari rumah sudah tercampur, di lapangan akan sulit,” ujarnya.
Adapun lima cara yang disampaikan dalam forum tersebut meliputi:
Memilah sampah organik dan non-organik sejak dari sumber (rumah tangga)
Mengurangi penggunaan barang sekali pakai
Memanfaatkan kembali (reuse) barang yang masih layak
Mendaur ulang (recycle) melalui bank sampah
Mengolah sampah organik menjadi kompos atau nilai guna lainnya
Menurutnya, tanpa kesadaran dasar ini, program sebesar apapun tidak akan berjalan efektif.
Program Tiga Pelita juga diperkuat dengan kehadiran aplikasi digital yang dikembangkan oleh Samudera Wibawa, yang memungkinkan pelaporan, pencatatan, hingga konversi nilai ekonomi sampah secara transparan.
Selain itu, terdapat 7 bank sampah yang telah memiliki SK resmi dan akan menjadi pusat pengelolaan di lingkungan masyarakat.
Meski baru dilantik, Satgas disebut sudah mulai bekerja dengan melakukan pemilahan sampah di lapangan. Namun, Lurah Tigaraksa mengingatkan bahwa komitmen menjadi kunci utama.
“Yang tidak hadir akan kita evaluasi. Kita butuh yang siap kerja, bukan hanya nama,” ujarnya tegas.
Pelantikan ini menjadi awal dari upaya besar. Jika komunikasi berjalan, edukasi konsisten, dan masyarakat terlibat aktif, Tiga Pelita berpotensi menjadi solusi nyata.
Penulis : Nuraini
Editorial : Chandra
