TANGERANG | KOMETNEWS.ID — Upaya meningkatkan keterampilan dan kemandirian masyarakat terus dilakukan melalui kegiatan pelatihan berbasis keterampilan. Salah satunya melalui pelatihan menjahit yang digelar di Aula Lantai 2 Kantor Desa Tanjakan, Kabupaten Tangerang. Jum’at (4/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 16 peserta, yang terdiri dari delapan peserta dari Desa Sukasari dan delapan peserta dari Desa Tanjakan. Pelatihan diberikan secara bertahap, mulai dari pengenalan bahan, pembuatan pola, teknik memotong bahan, hingga proses menjahit sampai menghasilkan pakaian yang siap digunakan.
Instruktur dalam kegiatan tersebut adalah Ibu Lilis dari Kabupaten Tangerang, yang memberikan pendampingan secara langsung kepada para peserta selama proses pelatihan.
Pelatihan ini telah berjalan selama kurang lebih satu minggu. Para peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teori, tetapi juga langsung melakukan praktik agar mampu menguasai teknik dasar hingga proses menjahit secara mandiri.
Dalam prosesnya, peserta diajarkan bagaimana mengenali jenis bahan yang akan digunakan, menentukan ukuran, membuat pola, memotong bahan sesuai pola, hingga menyatukan setiap bagian menggunakan mesin jahit.
Dengan metode praktik langsung tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami cara menjahit, tetapi juga memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.
Kepala Desa Tanjakan, Saumin, menyambut baik pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurutnya, kegiatan peningkatan keterampilan masyarakat seperti pelatihan menjahit memiliki manfaat jangka panjang karena dapat menjadi bekal bagi warga untuk meningkatkan perekonomian keluarga.
“Harapannya setelah mengikuti pelatihan ini, peserta benar-benar bisa menjahit dan keterampilan yang didapat dapat dimanfaatkan untuk membuka usaha ataupun menambah penghasilan keluarga,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Tanjakan, Usnadi, S.S., OS, turut mendukung kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan keterampilan akan lebih bermanfaat apabila peserta mendapatkan pendampingan hingga benar-benar mampu mempraktikkan ilmu yang diberikan.
Menurutnya, keberhasilan pelatihan bukan hanya dilihat dari selesainya kegiatan, tetapi dari kemampuan peserta dalam menerapkan keterampilan setelah kembali ke lingkungan masing-masing.
“Yang paling penting peserta bisa menyerap ilmu yang diberikan, kemudian mampu mempraktikkannya secara mandiri. Kalau sudah memiliki keterampilan, tentu akan lebih mudah dikembangkan menjadi kegiatan produktif,” katanya.
Dari Belajar Dasar hingga Mendapat Sertifikasi
Menariknya, kegiatan pelatihan ini tidak berhenti pada pemberian materi dasar. Setelah mengikuti rangkaian pelatihan dan dinyatakan mampu menguasai keterampilan yang diajarkan, para peserta juga akan mendapatkan sertifikasi sebagai bukti telah mengikuti dan menyelesaikan pelatihan.
Sertifikasi tersebut diharapkan dapat menjadi nilai tambah bagi peserta ketika ingin mengembangkan usaha jasa jahit, bekerja di bidang konveksi, maupun mengikuti pelatihan atau program pengembangan keterampilan lainnya.
Pelatihan yang melibatkan peserta dari dua desa ini juga menjadi contoh bahwa kolaborasi antarwilayah dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk saling belajar dan meningkatkan kemampuan.
Dari sebuah potongan bahan, peserta belajar membuat pola. Dari pola tersebut kemudian dipotong, dijahit, dan dirangkai hingga menjadi sebuah produk. Proses sederhana itu menjadi gambaran bahwa keterampilan yang dimiliki masyarakat dapat diubah menjadi peluang ekonomi apabila terus dikembangkan.
Ke depan, para peserta diharapkan tidak hanya berhenti setelah pelatihan selesai. Kemampuan menjahit yang telah diperoleh dapat dikembangkan menjadi usaha rumahan, menerima pesanan pakaian, melakukan permak pakaian, hingga memproduksi berbagai kebutuhan sandang lainnya.
Pelatihan menjahit ini menjadi salah satu langkah konkret dalam membangun masyarakat yang lebih terampil, produktif, dan mandiri.
Penulis : Nuraini / Chandra












