MAUK | KometNews.id – Momentum Tahun Baru 2026 menjadi ajang refleksi perjalanan hidup dan pengabdian bagi Abdullah, S.Pd., atau yang akrab disapa Pak Abung Abdullah, sosok pendidik yang dikenal sederhana, konsisten, dan penuh dedikasi di SMP Negeri 1 Mauk.
Saat ditemui dan diwawancarai KometNews.id, Pak Abung membuka kisah panjang hidupnya—sebuah perjalanan yang tidak instan, penuh liku, namun sarat nilai ketulusan dan pengabdian.
Latar Belakang Aktivis dan Wartawan
Sebelum sepenuhnya mengabdikan diri sebagai pendidik, Pak Abung dikenal aktif di dunia sosial dan kepemudaan. Sejak tahun 2017, ia pernah menjadi wartawan, sekaligus aktivis yang aktif di berbagai organisasi, di antaranya KNPI dan Karang Taruna. Bahkan, ia tercatat sebagai Karang Taruna pertama di P3K yang full, sebuah capaian yang tidak banyak diketahui publik.
Namun, di balik rekam jejak organisasi tersebut, tersimpan kisah perjuangan panjang dalam dunia pendidikan dan birokrasi.
Perjuangan Panjang Menuju Status ASN
Pak Abung mengisahkan bahwa dirinya pernah mengikuti beberapa tahapan seleksi pengangkatan guru, termasuk tes yang saat itu didatangi Maesyal Rasyid, namun belum berhasil lolos.
“Yang pertama saya tidak lulus. Yang kedua, saya didaftarkan kartu tes oleh tiga orang, bahkan dicetakin oleh guru SD karena peduli. Wawancara saya bagus, tapi kompetensi tidak lulus, nilainya tidak sampai,” ungkapnya jujur.
Harapan sempat redup, hingga seorang guru senior memberi informasi penting terkait kategori K2 (kategori dua) di usia 50 tahun, dengan nilai yang sebenarnya masuk kategori baik.
“Setelah dicek, harusnya PNS tapi tidak kebagian. Akhirnya teman-teman yang memberitahu. Tapi saya tidak pernah menulis berita tentang diri saya sendiri,” katanya tegas, menunjukkan integritasnya sebagai mantan wartawan.
Dari Teknik Bangunan ke Dunia Seni dan Pendidikan
Menariknya, latar belakang pendidikan Pak Abung bukan dari seni semata. Ia pernah menempuh pendidikan Teknik Bangunan, bahkan hasil karyanya berupa lemari dan meja piket hingga kini masih digunakan di SMPN 1 Mauk dan telah bertahan lebih dari 12 tahun.
Ia juga merupakan lulusan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) tahun 2002, dengan ijazah negeri yang sah. Di tahun yang sama, ia memutuskan berpindah profesi secara total menjadi guru, mengikuti jejak dan semangat pengabdian almarhum Orang Tuanya sebagai guru seni budaya yang menjadi inspirasinya.
Mengabdi Total di SMPN 1 Mauk
Sebagai Guru Seni Budaya dan Teater, Pak Abung dikenal konsisten membina kreativitas siswa, mengajarkan seni bukan hanya sebagai keterampilan, tetapi sebagai sarana pembentukan karakter, kepekaan sosial, dan ekspresi diri.
Riwayat pendidikannya pun tidak lepas dari wilayah Mauk. Ia Sempat Mengajar sebagai guru seni budaya dan teater di SMPN 1 Mauk, SMAN 2, dan aktif sebagai aktivis lokal sebelum akhirnya kembali mengabdi di sekolah yang sama.
“Saya memilih mengabadikan diri sepenuhnya sebagai guru. Bukan sekadar mengajar, tapi mendidik dengan hati,” tuturnya.
Refleksi Tahun Baru 2026
Di awal tahun 2026 ini, Pak Abung berharap dunia pendidikan semakin memberi ruang bagi guru-guru yang berangkat dari keikhlasan dan pengalaman lapangan, bukan sekadar angka dan administrasi.
“Perjuangan saya mungkin tidak sempurna, tapi niat saya satu: terus bermanfaat dan setia mendidik generasi,” pungkasnya.
Kisah Abdullah, S.Pd. menjadi cermin bahwa pengabdian sejati tidak selalu lahir dari jalur mudah. Ketekunan, integritas, dan kesetiaan pada pendidikan menjadikan sosok Pak Abung Abdullah sebagai figur inspiratif di lingkungan SMPN 1 Mauk dan dunia pendidikan Kabupaten Tangerang.
Penulis : Chandra AB

