Site icon KometNews.id

Reses di Desa Kohod, Dewan Syarifudin Dorong Pendidikan Prioritas dan Normalisasi Kali kecil Cisadane

KABUPATEN TANGERANG | KometNews.id  – Anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (PKB), Syarifudin bin H. Salwani, menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi prioritas utama dalam menghadapi semakin ketatnya persaingan hidup masyarakat Desa Kohod, Kabupaten Tangerang.

 

Pernyataan tersebut disampaikan saat Reses Masa Persidangan Kedua Tahun Sidang 2025–2026, yang digelar pada Selasa, 10 Februari 2026, bertempat di Pondok Pesantren GATRA, Desa Kohod, pimpinan KH. Muhammad Yusuf, M.Pd. Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka antara wakil rakyat dan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi yang akan diteruskan kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang.

 

Menurut Syarifudin, Desa Kohod merupakan wilayah yang dihuni berbagai suku dan latar belakang masyarakat. Kondisi tersebut membuat persaingan hidup semakin kuat, sehingga peningkatan kualitas pendidikan menjadi kunci utama.

 

“Kalau kita lemah, kita akan tersingkir. Pendidikan harus jadi prioritas. Meski saya di Komisi Infrastruktur, pendidikan tetap menjadi perhatian utama saya,” ujar Syarifudin bin H. Salwani, anggota DPRD Provinsi Banten periode 2024–2029, Dapil Banten 5 (Kabupaten Tangerang B).

 

KH. Muhammad Yusuf: Pesantren Siap Jadi Ruang Aspirasi dan Pendidikan

 

Sebagai tuan rumah, pimpinan Pondok Pesantren GATRA, KH. Muhammad Yusuf, M.Pd, menyambut baik pelaksanaan reses di lingkungan pesantren. Ia menilai kegiatan tersebut sangat penting karena menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan kesejahteraan.

 

“Kami bersyukur Pondok Pesantren GATRA dipercaya menjadi tempat kegiatan reses ini. Pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga ruang dialog dan penyampaian aspirasi masyarakat. Harapan kami, aspirasi warga Desa Kohod, khususnya terkait pendidikan dan penanganan banjir, benar-benar bisa diperjuangkan dan direalisasikan,” ujar KH. Muhammad Yusuf, M.Pd.

 

Ia juga menegaskan bahwa pesantren siap bersinergi dengan pemerintah dan wakil rakyat dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berakhlak.

 

Banjir Hambat Pendidikan dan Mata Pencaharian

 

Selain isu pendidikan, persoalan banjir menjadi keluhan utama warga. Banjir dinilai menghambat aktivitas ekonomi masyarakat dan proses belajar mengajar di sekolah-sekolah.

 

Dalam sesi dialog, Haji, salah satu warga, mempertanyakan solusi jangka pendek terkait genangan air dan dampaknya terhadap fasilitas pendidikan.

 

“Sekolah-sekolah sering terdampak banjir. Air tergenang cukup lama. Solusi jangka pendeknya bagaimana, dan apakah ada bantuan?” tanyanya.

 

Menanggapi hal tersebut, Syarifudin menyampaikan kesiapan memperjuangkan solusi konkret.

 

“Silakan saja diusulkan mesin pompa air. Akan saya upayakan agar bisa terealisasi,” jawabnya.

 

Ia juga mengingatkan risiko penyakit pasca banjir, seperti penyakit kulit dan meningkatnya populasi nyamuk yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.

 

Normalisasi Kali Cabang Cisadane Jadi Harapan Warga

 

Dalam forum tersebut, tokoh masyarakat Desa Kohod mendorong normalisasi dan sodetan Kali Cabang Cisadane sebagai solusi jangka panjang agar banjir tidak terus berulang.

 

“Kami berharap Kali Cabang Cisadane dinormalisasi dan disodet agar aliran air lancar dan banjir bisa dicegah,” ungkap tokoh masyarakat.

 

Infrastruktur Jalan dan Drainase Disorot

 

Sementara itu, Ibu Ulfa meminta perhatian serius terhadap akses jalan dan pembangunan gorong-gorong.

 

“Kami mohon jalan segera dipaving block agar tidak licin karena sering warga terpeleset. Gorong-gorong sampai kapan dibangun? Jangan menunggu instruksi dari atas atau pengembang baru dikerjakan,” tegasnya.

 

 

Menutup kegiatan reses, Syarifudin menegaskan seluruh aspirasi warga Desa Kohod, mulai dari pendidikan, penanganan banjir, normalisasi sungai, infrastruktur jalan, drainase, hingga kesehatan, akan dicatat dan diperjuangkan melalui mekanisme resmi DPRD.

 

“Reses ini bukan sekadar seremonial, tetapi amanah yang harus saya jalankan,” pungkasnya.

 

Penulis : Nuraini / Akhmad Mutolib

Editorial : Chandra

Exit mobile version