Site icon KometNews.id

Sampah Menggunung di Jalan Raya Mauk Km 13 Sepatan, Instruksi Berlapis Diduga Diabaikan

KometNews.Id | TANGERANG – Tumpukan sampah kembali menjadi potret buram pengelolaan lingkungan di Kabupaten Tangerang. Meski pemerintah pusat hingga daerah telah mengeluarkan berbagai instruksi tegas, kondisi di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.

 

Pantauan Kometnews.id pada Jumat (10/4/2026) pagi, sekitar pukul 06.22 WIB, di Jalan Raya Mauk Km 13, Kecamatan Sepatan, terlihat sampah rumah tangga menggunung di pinggir jalan. Plastik berbagai warna, limbah domestik, hingga sisa material lainnya menumpuk tanpa penanganan yang memadai.

 

Tidak hanya di satu titik, kondisi serupa juga ditemukan di wilayah Pertigaan Gang Ambon, RW 05, Desa Kayu Bongkok, Kecamatan Sepatan sekitar pukul 06.24 WIB. Tumpukan sampah berada tepat di sisi jalan, berdekatan dengan permukiman warga dan akses lalu lintas.

 

Instruksi Berjenjang, Fakta Lapangan Berbeda

 

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah, di antaranya:

 

Gerakan Indonesia ASRI dari Kemendagri

 

Surat edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Instruksi Gubernur Banten

Surat Edaran Bupati Tangerang Nomor B/800.1.111.1/8564/IV/DLHK/2026

 

Seluruh regulasi tersebut menekankan pentingnya kebersihan lingkungan serta keterlibatan aktif pemerintah daerah hingga tingkat desa. Namun, fakta di lapangan memunculkan dugaan bahwa implementasinya belum berjalan optimal.

 

Ganggu Lingkungan dan Aktivitas Warga

 

Keberadaan sampah di bahu jalan tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan dan lingkungan. Selain bau tidak sedap, tumpukan tersebut dapat memicu munculnya lalat, tikus, hingga risiko penyakit.

 

 

Di sisi lain, sampah yang meluber ke badan jalan juga berpotensi mengganggu pengguna jalan. Pengendara harus menghindari area tertentu, yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama pada pagi dan malam hari.

 

Perlu Penanganan Serius dan Konsisten

 

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penanganan di lokasi tersebut. Namun, melihat kondisi yang ada, diperlukan langkah cepat dan terukur agar persoalan tidak terus berulang.

 

Pengamat lingkungan Deden Menilai, persoalan sampah bukan semata pada kurangnya kegiatan bersih-bersih, tetapi juga soal konsistensi pengawasan, sistem pengangkutan, serta kesadaran masyarakat.

 

 

Jika tidak ada penanganan berkelanjutan, maka program korvei rutin yang saat ini digencarkan berisiko hanya menjadi kegiatan seremonial tanpa dampak nyata di lapangan.

 

Warga Harap Ada Tindakan Nyata

 

Sejumlah warga berharap pemerintah tidak hanya fokus pada titik-titik tertentu, tetapi juga menyasar lokasi yang selama ini menjadi langganan pembuangan liar.

 

“Kalau cuma dibersihin sesekali, nanti numpuk lagi. Harus ada pengawasan dan tindakan tegas,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

 

Persoalan ini menjadi ujian bagi keseriusan pemerintah daerah dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat, sejalan dengan semangat Gerakan Indonesia ASRI.

 

(Redaksi Kometnews.id)

Exit mobile version