Kometnews.id – Jakarta – Di tengah gempuran budaya populer global dan modernisasi olahraga bela diri, Pencak Silat Cimande berdiri kokoh sebagai salah satu akar utama kelahiran berbagai aliran silat di Nusantara. Lahir dari rahim sejarah Abah Khaer pada sekitar tahun 1700-an, Cimande bukan sekadar jurus dan pukulan, melainkan filosofi hidup masyarakat Banten. Kamis, (7/5).

 

Kini, warisan agung itu mendapat napas baru. Hadirlah TTKKBI Tarikolot Karuhun Banten Indonesia – sebuah wadah pemersatu yang mengubah paradigma: dari silat sebagai seni bertarung menjadi gerakan budaya kebangsaan.

 

Bukan Sekadar Waduk Silat, Tapi Rumah Ruh Karuhun

 

TTKKBI (singkatan dari Tatakrama, Tepa Kalih, Kungkum, Bela Diri, Intelejen) hadir dengan pendekatan inovatif. Organisasi ini tidak hanya mengajarkan ketahanan fisik, tetapi juga membangun ekosistem persaudaraan lintas perguruan.

 

“Kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi seluruh aliran seni budaya dan pencak silat Nusantara. Tidak ada dikotomi perguruan A atau B. Yang ada adalah semangat kebersamaan untuk menjaga marwah leluhur,” demikian pengurus TTKKBI dalam deklarasi terbarunya.

 

Menjaga Nilai Leluhur dalam Kemasan Kekinian

 

Apa yang membuat TTKKBI berbeda? Mereka menggabungkan tiga pilar besar:

 

1. Pelestarian Tradisi – Melestarikan jurus khas Cimande, doa-doa Karuhun, dan tatakrama pesilat sejati.

2. Pendekatan Intelektual Modern – Menguatkan riset sejarah silat dan digitalisasi arsip perguruan.

3. Kegiatan Sosial-Budaya – Pentas seni, bakti sosial, hingga dialog kebudayaan antar daerah.

 

Menjawab Tantangan Zaman

 

Di era algoritma dan generasi instan, TTKKBI memiliki terobosan: membuka ruang dialog daring untuk para pecinta silat dari Sabang sampai Merauke. Mereka pun menginisiasi Festival Silat Nusantara Virtual dan Pasar Budaya Karuhan untuk mendekatkan seni bela diri tradisional kepada generasi muda.

 

Untuk Generasi Masa Depan

 

Pesan utama TTKKBI Tarikolot Karuhun Banten Indonesia sederhana namun dalam: “Pencak silat bukanlah seni kekerasan, melainkan jalan menuju kesempurnaan budi. Dan persatuan antar aliran adalah harga mati untuk menjaga Indonesia.”

 

Dengan semangat “Bersatu dalam Tradisi, Kuat dalam Kebudayaan”, TTKKBI menegaskan bahwa silat tak akan pernah mati. Ia hanya berubah wujud: dari adu ketangkasan menjadi lembaran sejarah yang terus ditulis oleh para karuhun modern. (Vijay).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *