KABUPATEN TANGERANG | KometNews.id — Penanganan tumpukan sampah liar di kawasan Teluknaga akhirnya dilakukan setelah sempat menjadi sorotan publik dan ramai diperbincangkan di media sosial. Tumpukan sampah di Jalan Raya Salembaran, Kampung Melayu Timur, mulai dibersihkan pada Sabtu (28/3/2026).
Sebelumnya, KometNews.id telah memberitakan kondisi tersebut dalam dua laporan terpisah. Pada 26 Februari 2026, dilaporkan adanya tumpukan sampah di depan SPBU Teluknaga yang meluber hingga ke badan jalan dan menyebabkan penyempitan arus lalu lintas. Kendaraan dari dua arah terpantau harus bergantian melintas.
Pada pemberitaan berikutnya, ditemukan bahwa sebagian area telah dibersihkan dan dipasangi imbauan larangan membuang sampah. Namun, sejumlah titik lain di jalur yang sama masih terlihat dipenuhi sampah.
Sejumlah warga menyampaikan keluhan terkait kondisi tersebut.
“Di depan pom bensin memang sudah dibersihkan dan dipasang plang larangan. Namun di deretan setelahnya masih terdapat tumpukan sampah. Harapannya penanganan bisa dilakukan secara menyeluruh,” ujar salah satu warga.
Keluhan warga juga beredar melalui platform TikTok, yang memperlihatkan kondisi di lapangan.
Pembersihan Melibatkan Sejumlah Unsur
Camat Teluknaga, Kurnia, menyampaikan bahwa kegiatan pembersihan dilakukan dengan melibatkan unsur Polsek, Koramil, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang, UPT kebersihan, serta Pemerintah Desa Kampung Melayu Timur.
Menurutnya, pembersihan berlangsung sejak pagi hingga sore hari dengan dukungan alat berat dan armada pengangkut sampah.
“Untuk wilayah Puri telah selesai dibersihkan, selanjutnya akan dilakukan perapihan,” ujarnya.
Dari kegiatan tersebut, tercatat sebanyak 12 truk sampah diangkut menuju tempat pembuangan akhir. Beberapa armada dilaporkan melakukan lebih dari satu kali pengangkutan.
Perlu Pengawasan Berkelanjutan
Pemerintah kecamatan menyatakan akan melakukan langkah lanjutan berupa pengawasan dan penataan berkala guna mencegah terulangnya penumpukan sampah di lokasi yang sama. Upaya ini rencananya melibatkan pemerintah desa serta unsur terkait lainnya.
Di sisi lain, pengamat lingkungan dan masyarakat menilai bahwa penanganan sampah memerlukan sistem yang konsisten, tidak hanya bersifat responsif. Ketersediaan layanan pengangkutan, edukasi masyarakat, serta pengawasan di lapangan dinilai menjadi faktor penting dalam mencegah penumpukan sampah.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan lingkungan membutuhkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Ke depan, diharapkan upaya yang dilakukan tidak hanya bersifat penanganan sesaat, tetapi juga berkelanjutan agar kondisi serupa tidak kembali terjadi di wilayah Kabupaten Tangerang. (Red).

