KOTA TANGERANG | KometNews.id — Sebuah video berdurasi 21 detik yang memperlihatkan sosok diduga Wali Kota Tangerang, Sachrudin, tengah membagikan uang saat momen Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah viral di media sosial. Rekaman singkat itu memicu gelombang komentar dari warganet, mulai dari yang mendukung hingga mempertanyakan motif di balik aksi tersebut.
Dalam video yang beredar luas, terlihat aktivitas pembagian uang kepada sejumlah orang di halaman sebuah rumah berlantai dua. Lokasi itu disebut-sebut sebagai kediaman pribadi Sachrudin di kawasan Poris Residence, Cipondoh, Kota Tangerang. Suasana tampak ramai dengan warga yang berkumpul dan menerima uang secara langsung.

Sorotan publik pun tak terhindarkan. Di tengah sensitifnya isu pejabat publik dan etika pemberian uang, aksi tersebut langsung ditarik ke berbagai tafsir—dari sekadar tradisi Lebaran hingga dugaan pencitraan.
Saat dikonfirmasi di kediamannya pada Minggu (29/3/2026), Sachrudin akhirnya buka suara. Dengan nada santai namun tegas, ia mempertanyakan mengapa aksi berbagi justru dipersoalkan.
“Orang bagi-bagi duit diviralin. Masa berbuat baik diviralin? Gak masalah, biar terinspirasi. Orang berbagi semuanya. Kalau kita bagi-bagi duit emang enggak boleh? Bagi-bagi duit wartawan juga enggak boleh? Enak banget,” ujar Sachrudin.
Ia menegaskan bahwa makna dari video tersebut sangat bergantung pada sudut pandang masing-masing pihak. Menurutnya, tidak semua tindakan berbagi harus dicurigai sebagai sesuatu yang negatif.
“Tergantung niatnya, sudut pandangnya, tujuannya apa. Orang itu mungkin juga pernah saya bagi,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat Betawi saat Lebaran. Ia menyebut praktik tersebut bukan “nyawer” dalam konteks negatif, melainkan “mersen”, istilah lokal yang merujuk pada pemberian uang kepada anak-anak atau kerabat sebagai bentuk kasih sayang.
“Saya waktu kecil juga begitu. Ke rumah saudara, ‘cang, cing’, itu memancing anak-anak rajin silaturahim,” jelasnya.
Menurut Sachrudin, tradisi ini justru memiliki nilai sosial yang kuat dalam menjaga hubungan kekeluargaan dan mempererat silaturahmi di momen hari raya.

Namun demikian, di tengah era digital, batas antara tradisi, kepentingan pribadi, dan citra publik menjadi semakin tipis. Apa yang dulu dianggap lumrah di lingkungan sosial, kini bisa berubah menjadi konsumsi publik yang memicu polemik luas.
Sachrudin pun menutup pernyataannya dengan pesan agar masyarakat tidak terjebak pada persepsi negatif semata.
“Edukasi masyarakat, sampaikan yang benar, hiburlah masyarakat,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, video tersebut masih terus menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Belum diketahui secara pasti siapa pihak yang pertama kali mengunggah video tersebut ke publik.
Penulis : nuraini
Editorial : Chandra