FILM

Eksplorasi Dimas Anggara di Genre Horor, Aplikasi Iblis Hadirkan Teror dari Sebuah Kerinduan

13
×

Eksplorasi Dimas Anggara di Genre Horor, Aplikasi Iblis Hadirkan Teror dari Sebuah Kerinduan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, KOMETNEWS.ID — Kerinduan terhadap orang yang telah pergi terkadang membuat seseorang rela melakukan apa saja untuk kembali merasakan kehadirannya. Namun, bagaimana jika keinginan untuk berkomunikasi dengan orang yang telah meninggal justru membuka pintu menuju teror yang tidak pernah dibayangkan?. Sabtu (19/9/2026).

 

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama film Aplikasi Iblis, persembahan NIH Pictures yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026.

 

Film ini sekaligus menjadi langkah baru bagi Dimas Anggara yang untuk pertama kalinya duduk di kursi sutradara dalam genre horor. Mengusung urban supernatural horror, Aplikasi Iblis memadukan kisah kehilangan, percintaan, misteri, aksi, teknologi, dan teror supranatural yang dekat dengan kehidupan masyarakat perkotaan.

 

Menjelang penayangannya, NIH Pictures telah merilis trailer dan poster film yang memperlihatkan atmosfer misterius sekaligus mencekam. Poster menampilkan Junior Roberts dan Dosma Hazenbosch sebagai sepasang kekasih yang terpisah oleh kematian, tetapi digambarkan masih memiliki keterhubungan.

 

Berawal dari Kehilangan, Berujung Teror

 

Cerita berpusat pada Arya, diperankan Junior Roberts, yang harus menghadapi kenyataan pahit setelah kekasihnya, Laras yang diperankan Dosma Hazenbosch, meninggal secara tragis.

 

Laras menjadi korban perampokan ketika pulang bekerja pada malam hari. Kematian tersebut meninggalkan luka mendalam bagi Arya yang belum mampu menerima kepergian orang yang dicintainya.

 

Dalam kondisi penuh kesedihan, Arya kemudian menemukan sebuah aplikasi misterius yang dipercaya mampu menghubungkan seseorang dengan arwah orang yang telah meninggal.

 

Kerinduan membuat Arya mencoba menggunakan aplikasi tersebut.

 

Alih-alih mendapatkan ketenangan, keputusan itu justru membawanya masuk ke dalam sebuah perjalanan penuh misteri dan teror.

 

Arya seolah mendapatkan kesempatan untuk kembali berkomunikasi dengan Laras. Namun, bersamaan dengan itu, kehidupannya mulai berubah.

 

Sosok Laras bahkan mendorong Arya untuk melakukan balas dendam.

 

Di sinilah pertanyaan besar muncul: apakah sosok yang berkomunikasi dengan Arya benar-benar arwah Laras, atau ada sesuatu yang lain yang sedang memanfaatkan rasa kehilangan dan kerinduannya?

 

Dimas Anggara Eksplorasi Genre Horor

 

Sebagai sutradara, Dimas Anggara mencoba membawa pendekatan berbeda dalam menghadirkan horor.

 

Teror dalam Aplikasi Iblis tidak hanya mengandalkan sosok menyeramkan, tetapi dibangun melalui situasi yang dekat dengan keseharian masyarakat urban.

 

Jalanan pada malam hari, parkiran yang gelap dan sepi, gedung kosong hingga layar telepon genggam menjadi bagian dari ruang-ruang yang digunakan untuk membangun ketegangan.

 

Dimas mengatakan, film ini menjadi ruang baginya untuk mengeksplorasi horor dengan memadukan berbagai elemen cerita.

 

“Rasa cinta dan kehilangan membuat seseorang mudah dimanipulasi. Di sini, ada Arya yang sangat bucin dengan Laras, tapi cinta mereka berakhir tragis. Saya mencoba mengeksplorasi genre horor dengan teror, misteri, action, dengan balutan cerita drama yang hadir lewat kisah romance Arya dan Laras,” ujar Dimas Anggara.

 

Pendekatan tersebut membuat Aplikasi Iblis tidak semata-mata berbicara tentang makhluk supernatural, tetapi juga mengenai bagaimana rasa kehilangan dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang berisiko.

 

Junior Roberts Hadapi Karakter Penuh Tekanan

 

Bagi Junior Roberts, memerankan Arya menjadi tantangan tersendiri.

 

Karakter tersebut menuntutnya untuk menghadirkan emosi seseorang yang kehilangan pasangan, sekaligus menjalani sejumlah adegan aksi dan teror.

 

Junior mengaku harus mempersiapkan kondisi fisik sekaligus emosional untuk menjalani karakter tersebut.

 

“Di film Aplikasi Iblis ini sangat menantang bagiku, karena karakter Arya yang aku perankan harus merasakan kesedihan ditinggal meninggal kekasihnya, namun juga harus siap fisik untuk action-nya, dan banyak adegan yang meneror,” ujar Junior Roberts.

 

Perpaduan antara drama kehilangan dan adegan aksi menjadi bagian penting dalam perjalanan karakter Arya.

 

Ia bukan hanya berusaha memahami apa yang terjadi kepada Laras, tetapi juga harus berhadapan dengan konsekuensi dari keputusannya sendiri setelah menggunakan aplikasi misterius tersebut.

 

Dosma Hazenbosch Angkat Isu Keamanan Perempuan

 

Sementara itu, Dosma Hazenbosch melihat karakter Laras memiliki sisi yang lebih luas daripada sekadar karakter dalam cerita horor.

 

Kisah Laras yang menjadi korban kejahatan ketika pulang bekerja pada malam hari menurutnya memiliki keterkaitan dengan persoalan keamanan yang masih menjadi perhatian di kehidupan nyata.

 

“Ada banyak perempuan pekerja yang pulang malam. Dan ternyata lingkungannya masih belum aman, sampai Laras kehilangan nyawa. Ini sangat miris dan kuharap juga bisa dilihat bahwa Aplikasi Iblis bukan cuma horor yang meneror tapi juga bisa menjadi awareness untuk kita semua,” ujar Dosma Hazenbosch.

 

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa film ini berusaha memasukkan isu sosial ke dalam cerita horornya.

 

Ketakutan yang ditampilkan bukan hanya berasal dari dunia supernatural, tetapi juga dari ruang publik yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

 

Deretan Pemain Lengkapi Teror

 

Aplikasi Iblis diproduseri oleh R. Dimas Aryanto dan disutradarai Dimas Anggara.

 

Selain Junior Roberts dan Dosma Hazenbosch, film ini turut menghadirkan Aldo Irawan Putra, Aulia Deas, Ruth Marini, serta penampilan spesial Della Dartyan.

 

Kehadiran para pemain tersebut memperkuat karakter dan konflik yang dibangun dalam cerita, terutama ketika kehidupan Arya mulai terseret semakin jauh setelah menggunakan aplikasi yang menghubungkannya dengan dunia arwah.

 

Ketika Teknologi Menjadi Pintu Teror

 

Salah satu daya tarik Aplikasi Iblis adalah penggunaan teknologi sebagai bagian dari sumber konflik.

 

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin bergantung pada telepon pintar dan berbagai aplikasi digital, film ini menghadirkan pertanyaan sederhana namun mengganggu: bagaimana jika sebuah aplikasi mampu membuka akses kepada sesuatu yang seharusnya tidak bisa dijangkau manusia?

 

Dari sanalah teror berkembang.

 

Kerinduan Arya terhadap Laras menjadi pintu masuk. Teknologi menjadi medianya. Sementara sesuatu yang tidak terlihat menjadi ancaman yang perlahan mengambil alih.

 

Dengan latar kehidupan urban, Aplikasi Iblis mencoba menghadirkan horor yang terasa dekat dengan keseharian penonton.

 

Bukan hanya tentang rumah tua atau tempat terpencil, tetapi juga tentang jalan pulang pada malam hari, parkiran yang sunyi, gedung kosong, dan sebuah layar ponsel yang selalu berada di tangan.

 

Film Aplikasi Iblis tayang di bioskop mulai 15 Oktober 2026.

 

Informasi terbaru mengenai film tersebut dapat diikuti melalui akun Instagram resmi @aplikasiiblisfilm dan @nihpictures.

 

Penulis : Chandra / Nuraini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *