KOSAMBI | KometNews.id – Aula Kantor Kelurahan Kosambi Barat, Kecamatan Kosambi “Gedor” Mindset Warga: Sampah Bukan Buangan, Tapi Sumber Uang mendadak “panas” oleh gagasan segar. Selasa (29/4/2026), para staff pegawai kelurahan kosambi barat dibuat tersentak dalam sosialisasi program pengelolaan sampah yang tidak biasa: tegas, blak-blakan, dan langsung menyentuh kantong.

 

Lurah Kosambi Barat, Aal Laila Nualiyah, tanpa basa-basi membongkar kesalahan pola pikir yang selama ini mengakar di masyarakat.

 

“Jangan buang cuan! Plastik, kardus, botol itu bukan sampah. Itu uang yang kalian buang tiap hari,” tegasnya lantang.

 

Pernyataan itu bukan sekadar jargon. Aal Laila menyodorkan realita sederhana: satu karung botol plastik bisa menghasilkan uang, kardus bekas belanja online punya harga, dan kaleng minuman punya pasar. Artinya, selama ini warga tanpa sadar membuang nilai ekonomi ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

 

Dari Sampah Jadi Komoditas

 

Program yang digulirkan Kelurahan Kosambi Barat bukan sekadar gerakan bersih-bersih. Ini adalah upaya menggeser paradigma: dari “buang sampah” menjadi “kelola aset”.

Material non-organik seperti:

Botol plastik

Gelas kemasan

Kardus bekas

Kaleng minuman

 

 

didorong untuk masuk ke sistem bank sampah atau dijual ke pengepul.

 

“Yang layak ke TPA itu cuma residu yang benar-benar tidak bisa diolah lagi. Sisanya? Itu bahan ekonomi,” jelas Aal Laila.

 

Tisu Bukan Plastik, Ini yang Sering Salah

 

Dalam sesi edukasi, Lurah juga meluruskan kesalahan umum yang sering terjadi di rumah tangga: soal tisu.

 

“Tisu itu organik. Bisa membusuk. Jangan campur dengan plastik,” ujarnya.

 

Kesalahan kecil seperti ini, menurutnya, berdampak besar pada kegagalan sistem pengelolaan sampah di lapangan.

 

Organik Jangan Dibuang, Tapi Diolah

 

Sorotan tajam juga diarahkan ke kebiasaan warga membuang sampah organik begitu saja.

 

Sisa makanan, kulit buah, dan daun kering justru didorong untuk:

Dijadikan kompos

Diolah menjadi pakan maggot

Dimanfaatkan untuk kebutuhan pekarangan

 

“Kenapa harus bayar angkut ke TPA kalau bisa jadi pupuk gratis?” kata Aal Laila.

 

Konsep ini mengarah pada ekonomi sirkular—di mana limbah kembali menjadi sumber daya.

 

Perubahan Perilaku, Bukan Sekadar Program

 

Narasumber teknis, Imam, menegaskan bahwa kunci keberhasilan bukan pada fasilitas, tapi pada perubahan kebiasaan.

 

“Jangan cuma bikin tong sampah. Edukasi harus jalan. Kalau tidak, program mati di tengah jalan,” tegasnya.

 

Ia juga menyinggung contoh nyata sekolah di wilayah Tigaraksa yang sukses menerapkan lingkungan minim sampah—bukti bahwa sistem ini bukan sekadar teori.

 

Lima Jurus Praktis dari Kosambi Barat

 

Forum ini tidak berhenti di wacana. Warga langsung dibekali langkah konkret:

Pisahkan sampah dari rumah (organik & non-organik)

Kurangi plastik sekali pakai

Gunakan kembali barang yang masih layak

Setor anorganik ke bank sampah

Olah organik jadi kompos atau pakan maggot

Pesannya jelas: perubahan dimulai dari dapur rumah, bukan dari TPS.

 

Langkah Nyata, Bukan Seremonial

 

Kelurahan Kosambi Barat memastikan program ini tidak berhenti sebagai acara seremonial. Rencana lanjutan sudah disiapkan:

Pembentukan bank sampah di tingkat RW

Penyediaan gerobak pilah sampah

Kerja sama dengan pengepul

Pendampingan warga secara berkelanjutan

 

Menuju Zero Waste

 

Di akhir acara, Aal Laila menegaskan target besar yang ingin dicapai:

 

“Sampah non-organik tidak boleh lagi ke TPA. Itu aset. Kita ubah mindset warga—dari buang sampah jadi kelola nilai.”

 

Kosambi Barat sedang mencoba sesuatu yang sering gagal di tempat lain: konsistensi.

 

Jika program ini berjalan, bukan tidak mungkin wilayah ini menjadi contoh nyata bahwa masalah sampah bukan soal kurangnya tempat, tapi kurangnya kesadaran.

 

Dan di Kosambi Barat, kesadaran itu sedang dipaksa untuk bangun.

 

Penulis : Chandra

Editorial : Nuraini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *